penantian seorang kekasih
Di sebuah kota kecil yang selalu diselimuti hujan sore, tinggal seorang gadis bernama Aira. Ia dikenal pendiam, lebih sering menghabiskan waktu di balik jendela kamarnya sambil membaca buku daripada berbincang dengan orang lain.
Suatu hari, di sebuah toko buku tua di sudut kota, Aira bertemu dengan seorang pemuda bernama Raka. Pertemuan mereka sederhana—tidak ada yang istimewa, hanya tangan yang bersamaan meraih buku yang sama. Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil.
“Sepertinya kita punya selera yang sama,” kata Raka.
Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Kadang sengaja, kadang seperti kebetulan yang diatur semesta. Mereka berbagi cerita, mimpi, bahkan ketakutan yang selama ini tak pernah Aira ungkapkan pada siapa pun.
Raka adalah kebalikan dari Aira. Ia ceria, penuh semangat, dan selalu berhasil membuat hari-hari Aira terasa lebih hangat, bahkan saat hujan turun tanpa henti.
Namun, waktu tidak selalu berpihak pada kebahagiaan.
Suatu sore, di bangku taman tempat mereka biasa bertemu, Raka datang dengan wajah yang berbeda. Tidak ada senyum, hanya mata yang tampak menyimpan sesuatu.
“Aku harus pergi,” katanya pelan.
Aira terdiam. Hatinya seperti diremas, tapi ia tak tahu harus berkata apa.
“Ayahku dipindahkan kerja ke kota lain. Minggu depan aku berangkat.”
Hujan turun perlahan, seakan ikut memahami suasana hati mereka. Aira menunduk, mencoba menahan air mata yang mulai jatuh.
“Kalau begitu… pergilah,” ucapnya lirih. “Jangan khawatirkan aku.
Raka tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca. “Aku nggak akan lupa kamu, Aira.”
Hari perpisahan itu datang terlalu cepat. Tanpa janji, tanpa kepastian kapan akan bertemu lagi.
Hari-hari Aira kembali sepi. Ia masih datang ke toko buku itu, masih duduk di bangku taman yang sama, berharap suatu keajaiban terjadi.
Waktu berlalu. Musim hujan berganti kemarau, lalu kembali lagi.
Hingga suatu sore, ketika hujan turun seperti biasa, seseorang duduk di sebelahnya.
“Aira?”
Suara itu… tak mungkin ia lupa.
Ia menoleh, dan di sana, Raka berdiri dengan senyum yang sama seperti dulu.
“Aku pulang,” katanya.
Aira terdiam sejenak, lalu tersenyum. Kali ini tanpa ragu, tanpa takut kehilangan lagi.
Karena ia akhirnya mengerti—cinta sejati mungkin terpisah oleh waktu dan jarak, tapi tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar