Senin, 06 April 2026

cerpen Pelangi di Ujung Senja

 

Pelangi di Ujung Senja

 

Suara azan asar menggema lembut dari masjid Al-Ikhlas di ujung jalan kampung Harmoni. Di saat yang hampir bersamaan, lonceng gereja kecil di seberangnya berdentang pelan. Sore itu langit tampak jingga, seakan menyatukan dua suara yang berbeda menjadi satu irama yang menenangkan.

Di bangku taman yang berada tepat di antara masjid dan gereja itu, empat remaja duduk melingkar. Mereka adalah Arga, Sinta, Maria, dan Bima. Empat sahabat yang sudah bersama sejak kelas tujuh, meski berasal dari latar belakang agama yang berbeda.

Arga dikenal sebagai anak yang aktif di rohis sekolah. Sinta sering membantu ibunya menyiapkan sesajen untuk upacara keagamaan di pura kecil dekat rumahnya. Maria adalah anggota paduan suara gereja, sementara Bima sering ikut kegiatan remaja vihara bersama keluarganya. Perbedaan itu tak pernah menjadi masalah bagi mereka—setidaknya hingga hari itu.

Semua bermula ketika sekolah mereka mengumumkan rencana pentas seni bertema “Keberagaman dalam Harmoni.” Setiap kelas diminta menampilkan pertunjukan yang mencerminkan nilai toleransi dan persatuan. Kelas mereka sepakat membuat drama tentang persahabatan lintas agama.

Awalnya, semuanya berjalan lancar. Namun, saat rapat persiapan, muncul perbedaan pendapat.

“Kita pakai adegan doa bersama saja di akhir cerita. Semua tokoh berdoa menurut agama masing-masing,” usul Maria penuh semangat.

Arga terlihat ragu. “Aku setuju soal pesan toleransinya. Tapi kalau ditampilkan doa dengan cara yang tidak tepat, bisa jadi masalah. Kita harus hati-hati.”

Sinta mengangguk pelan. “Benar. Jangan sampai ada yang merasa agamanya dipermainkan.”

Bima yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, “Mungkin kita bisa menampilkan nilai-nilainya saja, bukan ritualnya. Misalnya saling membantu saat ada perayaan agama.”

Suasana menjadi hening. Mereka menyadari bahwa niat baik saja tidak cukup. Perlu kebijaksanaan agar pesan toleransi tidak menyinggung keyakinan siapa pun.

Namun, perbedaan pendapat itu rupanya memicu gosip di kelas. Beberapa teman mulai berbisik-bisik.

“Ngapain sih repot-repot bawa agama segala?” ujar salah satu siswa.

“Ah, paling cuma pencitraan,” sahut yang lain.

Arga merasa gelisah. Ia khawatir kegiatan itu justru memicu kesalahpahaman. Di rumah, ia menceritakan kegundahannya kepada ayahnya.

Ayah Arga tersenyum bijak. “Toleransi bukan berarti mencampuradukkan ajaran, Nak. Moderasi beragama itu sikap adil dan seimbang—meyakini ajaran sendiri dengan teguh, tapi tetap menghormati orang lain.”

“Kita nggak harus sama untuk bisa rukun?” tanya Arga pelan.

“Tidak. Justru karena berbeda, kita belajar saling memahami.”

Kata-kata itu terngiang di benaknya keesokan harinya saat mereka kembali berkumpul di taman. Arga menyampaikan hasil pemikirannya.

“Teman-teman, aku setuju kita buat drama ini. Tapi kita fokus pada sikapnya, bukan ritualnya. Kita tunjukkan bagaimana remaja bisa saling mendukung tanpa mengganggu keyakinan masing-masing.”

Maria tersenyum lega. “Aku juga sudah bicara dengan kakak pembinaku di gereja. Katanya, toleransi itu tentang kasih dan penghormatan. Bukan soal menyamakan.”

Sinta menambahkan, “Ibuku bilang, hidup rukun itu seperti anyaman bambu. Kuat karena berbeda arah tapi saling mengikat.”

Bima tertawa kecil. “Wah, bijak sekali orang tua kita.”

Akhirnya mereka sepakat membuat alur cerita sederhana: tentang empat sahabat yang saling membantu saat masing-masing merayakan hari besar agama. Saat Arga berpuasa, teman-temannya menghormati dengan tidak makan di depannya. Saat Maria merayakan Natal, mereka datang memberi ucapan selamat tanpa ikut dalam ibadah. Ketika Sinta merayakan Galungan, mereka membantu membersihkan halaman. Dan saat Waisak tiba, mereka ikut menjaga ketertiban di sekitar vihara.

Proses latihan pun dimulai. Di tengah latihan, sebuah insiden kecil terjadi. Seorang siswa dari kelas lain mengejek, “Sok toleran! Nanti juga ribut sendiri.”

Maria sempat tersinggung. Namun Arga menahan emosinya. “Kita buktikan saja lewat tindakan,” katanya pelan.

Hari pentas seni akhirnya tiba. Aula sekolah dipenuhi siswa, guru, dan orang tua. Saat giliran kelas mereka tampil, suasana menjadi hening.

Drama dimulai dengan adegan perdebatan kecil antar tokoh tentang perbedaan keyakinan. Dialognya terasa nyata, karena memang terinspirasi dari pengalaman mereka sendiri. Penonton tampak terhanyut.

Puncaknya adalah adegan ketika salah satu tokoh sakit dan harus dirawat di rumah sakit bertepatan dengan hari raya agamanya. Tanpa mempersoalkan perbedaan, ketiga sahabatnya datang bergantian menjaga. Mereka tidak memperdebatkan cara berdoa, tidak memaksakan keyakinan, hanya hadir dengan empati dan kasih.

Dalam adegan terakhir, keempat tokoh berdiri berdampingan.

“Kita boleh berbeda jalan,” ucap Arga dalam dialognya.

“Tapi tujuan kita sama: hidup damai,” sambung Sinta.

“Perbedaan bukan alasan untuk menjauh,” kata Maria.

“Melainkan kesempatan untuk saling mengenal,” tutup Bima.

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula. Beberapa guru terlihat mengangguk bangga. Bahkan siswa yang sempat mengejek tadi ikut bertepuk tangan paling keras.

Setelah pertunjukan, kepala sekolah memberikan sambutan. “Anak-anak ini telah menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar teori di buku pelajaran. Ia hidup dalam tindakan sehari-hari.”

Malam itu, mereka kembali duduk di taman yang sama. Langit tampak gelap, namun bintang-bintang berkelip indah.

“Senang ya, ternyata usaha kita nggak sia-sia,” ujar Maria.

Arga tersenyum. “Aku belajar satu hal. Toleransi itu bukan tentang siapa yang paling benar. Tapi tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan hormat.”

Sinta memandang langit. “Seperti pelangi. Warnanya berbeda-beda, tapi justru itu yang membuatnya indah.”

Bima mengangguk setuju. “Kalau semua warna dipaksa jadi satu, pelangi tak lagi memesona.”

Mereka tertawa bersama. Dalam hati masing-masing, tumbuh keyakinan bahwa persahabatan mereka lebih kuat dari sekadar perbedaan identitas. Mereka menyadari, menjadi remaja di tengah keberagaman bukanlah beban, melainkan kesempatan untuk belajar menjadi manusia yang lebih dewasa.

Sejak hari itu, taman kecil di antara masjid dan gereja itu terasa semakin bermakna. Bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi simbol bahwa kehidupan yang damai bukanlah mimpi.

Ia tumbuh dari sikap saling menghargai, dari keberanian berdialog, dan dari kesediaan untuk memahami tanpa harus menghakimi.

Dan seperti pelangi di ujung senja, toleransi dan moderasi beragama akan selalu menemukan jalannya, selama ada hati-hati muda yang bersedia merawatnya.

 

cerpen Pelangi di Ujung Lorong Sekolah

 

Pelangi di Ujung Lorong Sekolah

 

Pagi itu langit Kota Semarang tampak cerah. Sinar matahari menyelinap melalui jendela kelas XI-B SMA Nusantara, menerpa wajah-wajah remaja yang tengah bersiap memulai hari. Di dinding kelas terpajang lambang Pancasila dengan burung Garuda yang membentangkan sayapnya, seakan mengingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan.

Di kelas itu, perbedaan bukanlah hal baru. Raka yang beragama Islam duduk sebangku dengan Made yang beragama Hindu. Di depan mereka ada Maria yang Katolik dan Joshua yang Kristen Protestan. Sementara itu, di sudut kelas, Wayan dan Citra sering terlibat diskusi hangat tentang budaya dan tradisi keluarga mereka.

Mereka adalah sahabat. Setidaknya, sebelum sebuah peristiwa kecil hampir meretakkan persahabatan itu.

Hari itu, Bu Ratna, guru Pendidikan Pancasila, memberikan tugas proyek kelompok.

“Anak-anak, bulan depan sekolah kita akan mengadakan Pekan Kebhinekaan. Setiap kelas diminta menampilkan pertunjukan yang mencerminkan nilai toleransi dan moderasi beragama. Ibu ingin kelas XI-B menjadi contoh,” ucapnya penuh semangat.

Kelas pun riuh. Ide-ide bermunculan. Ada yang mengusulkan drama, ada yang ingin menampilkan tari daerah, ada pula yang ingin membuat paduan suara lagu religi dari berbagai agama.

Raka mengangkat tangan. “Bagaimana kalau kita buat drama tentang persahabatan beda agama, Bu?”

“Bagus sekali,” jawab Bu Ratna. “Silakan diskusikan dalam kelompok.”

Akhirnya, Raka, Made, Maria, Joshua, dan Citra berada dalam satu kelompok. Mereka sepakat membuat drama berjudul Pelangi di Ujung Lorong.

Namun, perbedaan mulai terasa ketika mereka menentukan adegan.

“Aku rasa kita harus menampilkan adegan salat di masjid,” kata Raka.

“Kalau begitu, harus ada adegan misa di gereja juga,” sahut Maria.

Made menimpali, “Dan upacara di pura.”

Joshua tersenyum kaku. “Nanti jadi seperti parade tempat ibadah.”

Mereka terdiam. Diskusi yang awalnya hangat berubah canggung.

Citra mencoba menengahi. “Tujuan kita bukan menunjukkan siapa yang paling benar, tapi bagaimana kita saling menghargai.”

Namun Raka merasa idenya kurang dihargai. Ia teringat pesan ayahnya tentang pentingnya menjaga akidah. Di sisi lain, Maria juga ingin keyakinannya dihormati tanpa dianggap sekadar pelengkap.

Hari-hari berikutnya, latihan terasa hambar. Raka lebih sering diam. Made sibuk dengan kegiatannya di sanggar tari. Maria dan Joshua berlatih dialog sendiri. Persahabatan mereka mulai renggang.

Suatu sore, hujan turun deras. Raka berteduh di selasar sekolah ketika melihat Made berlari kecil sambil menutup kepala dengan tas.

“Made!” panggil Raka.

Made berhenti. “Eh, Rak.”

Mereka berdiri canggung. Hujan menciptakan jeda yang tak terucap.

“Aku minta maaf kalau kemarin aku terlalu memaksakan ide,” kata Raka akhirnya.

Made tersenyum tipis. “Aku juga. Aku pikir kita terlalu fokus pada simbol, bukan makna.”

Raka mengangguk. “Ayahku selalu bilang, Islam itu rahmatan lil alamin—rahmat bagi seluruh alam. Tapi mungkin aku belum benar-benar memahaminya.”

Made menatap hujan yang turun. “Di keluargaku, kami diajarkan konsep Tat Twam Asi—aku adalah kamu, kamu adalah aku. Kalau aku menyakiti perasaanmu, sama saja aku menyakiti diriku sendiri.”

Kata-kata itu membuat Raka terdiam. Ia merasa ada yang menampar lembut hatinya.

“Kita ini sahabat, ya?” tanya Made.

“Selamanya,” jawab Raka mantap.

Keesokan harinya, mereka berkumpul kembali.

“Aku punya ide,” kata Maria. “Bagaimana kalau dramanya tidak menampilkan ritual secara detail, tapi lebih ke konflik dan penyelesaiannya? Kita fokus pada nilai toleransi.”

Joshua menambahkan, “Kita bisa ambil inspirasi dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi tetap satu.”

Citra tersenyum. “Dan kita bisa mengutip nilai-nilai dari berbagai ajaran agama tentang kasih dan perdamaian.”

Raka mengangguk. “Setuju. Kita tunjukkan bahwa perbedaan bukan ancaman, tapi anugerah.”

Mereka pun mulai menyusun ulang naskah.

Dalam drama itu, diceritakan lima sahabat yang berbeda agama menghadapi kesalahpahaman akibat provokasi media sosial. Ada adegan ketika tokoh utama hampir terpecah karena komentar negatif yang menyudutkan salah satu agama.

Dialog puncaknya berbunyi:

“Kita boleh berbeda cara berdoa,” kata tokoh Raka dalam drama, “tapi kita punya tujuan yang sama: menjadi manusia yang baik.”

Maria sebagai tokoh utama perempuan menjawab, “Kalau Tuhan menciptakan kita berbeda, mungkin agar kita belajar saling mengenal, bukan saling membenci.”

Latihan demi latihan membuat mereka semakin kompak. Mereka tidak lagi memperdebatkan siapa yang lebih dominan, melainkan bagaimana pesan sampai ke penonton.

Di sela latihan, mereka sering berbagi cerita tentang tradisi masing-masing. Raka bercerita tentang suasana Ramadan di kampungnya. Maria membagikan kisah Natal bersama keluarga. Made menjelaskan makna Nyepi yang penuh refleksi. Joshua berbagi tentang pelayanan remaja di gereja.

Mereka tertawa, saling bertanya, dan kadang kagum pada keunikan satu sama lain.

Suatu hari, Citra berkata, “Ternyata indah ya, kalau kita saling membuka diri.”

“Seperti pelangi,” ujar Made. “Warnanya beda-beda, tapi justru itu yang membuatnya cantik.”

Hari pementasan tiba. Aula sekolah dipenuhi siswa dan guru. Di barisan depan, terpampang tulisan besar: “Pekan Kebhinekaan: Merawat Toleransi, Menguatkan Moderasi.”

Bu Ratna duduk dengan wajah penuh harap.

Lampu panggung menyala. Drama dimulai.

Adegan demi adegan mengalir lancar. Penonton terdiam saat konflik memuncak. Beberapa terlihat terharu ketika tokoh-tokoh saling meminta maaf dan menyadari kesalahan mereka.

Di akhir pertunjukan, kelima tokoh berdiri berjajar.

“Kami berbeda,” ucap mereka bersama.

“Tapi kami satu dalam persahabatan.”

Tepuk tangan bergemuruh memenuhi aula. Beberapa guru bahkan terlihat menyeka air mata.

Setelah pertunjukan, Bu Ratna memeluk mereka satu per satu.

“Ibu bangga pada kalian. Kalian tidak hanya menampilkan drama, tapi juga mempraktikkan nilai moderasi beragama.”

Raka menatap teman-temannya. Ia merasa hangat di dada.

Beberapa hari setelah pementasan, sekolah mereka sempat dihebohkan oleh isu di media sosial yang menyudutkan salah satu siswa karena perbedaan keyakinan. Beberapa komentar bernada provokatif mulai menyebar.

Namun kali ini, XI-B tidak tinggal diam.

Raka menulis klarifikasi yang menenangkan. Maria membuat poster digital bertuliskan pesan damai. Joshua dan Made mengajak teman-teman berdiskusi terbuka di kelas.

“Kita jangan mudah terprovokasi,” kata Citra dalam diskusi. “Moderasi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran, tapi menghargai perbedaan dan menolak ekstremisme.”

Sikap dewasa mereka meredam situasi. Bahkan siswa yang semula terpengaruh mulai memahami pentingnya berpikir kritis.

Bu Ratna tersenyum melihat perubahan itu. Ia sadar, pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tapi pembentukan karakter.

Suatu sore, mereka kembali duduk di lorong sekolah—tempat dulu mereka sempat berselisih.

“Lucu ya,” kata Maria. “Dari hampir bertengkar, sekarang kita jadi lebih solid.”

“Karena kita belajar,” jawab Raka.

“Belajar apa?” tanya Joshua.

“Belajar bahwa iman tidak perlu dipertentangkan. Justru harus membuat kita lebih berperikemanusiaan.”

Made menambahkan, “Dan belajar bahwa moderasi itu bukan berarti setengah-setengah dalam beragama, tapi penuh dalam kemanusiaan.”

Citra tersenyum. “Kalau semua remaja berpikir seperti ini, Indonesia akan damai.”

Raka menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan. Ia teringat kembali lambang Garuda di dinding kelas mereka.

“Kita ini generasi penerus,” katanya pelan. “Kalau bukan kita yang menjaga toleransi, siapa lagi?”

Mereka terdiam, menikmati momen itu.

Di ujung lorong sekolah, cahaya matahari membentuk bayangan panjang lima sahabat yang berdiri berdampingan. Seperti pelangi yang tak selalu muncul, tapi selalu dirindukan.

Persahabatan mereka kini bukan sekadar kebersamaan, melainkan komitmen. Komitmen untuk saling menghormati, mendengarkan, dan berjalan bersama meski berbeda arah keyakinan.

Dan di sanalah mereka mengerti—bahwa toleransi bukan hanya tema drama, melainkan sikap hidup. Moderasi beragama bukan slogan, melainkan jalan tengah yang menjaga mereka tetap utuh sebagai sahabat dan sebagai anak bangsa.

Pelangi itu mungkin tak selalu tampak di langit. Namun di hati mereka, warnanya akan selalu ada.

 

Rpp kls 7 smester 2 2021-2022

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan         :  Mts Nahdlatul wathon 

Kelas / Semester            : VII / 2

Mata Pelajaran             :  PPKn

Materi Pokok                :  Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

Sub Materi                    :  Keberagaman dalam Masyarakat Indonesia

Pertemuan ke-               :  1

Alokasi Waktu              :  1 x Pertemuan (120 Menit)

 

Materi Pembelajaran

KeberagamandalamMasyarakat Indonesia

a.       FaktorPenyebabKeberagamanMasyarakat Indonesia

b.      KeberagamanSukuBangsadanBudaya

c.       Keberagaman Agama danKepercayaan

d.      KeberagamanRas

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

·       Sumber dan Media

-      Buku Guru danBukuSiswaEdisiRevisi SMP/MTs Kelas VII, “PendidikanPancasiladanKewarganegaraan “, KementerianPendidikandanKebudayaan, Jakarta: 2016

-      Buku referensi lain yang menunjang

-      Internet

A.  tUJUAN Pembelajaran

Setelah mempelajari materi tentang ’ Keberagaman dalam Masyarakat Indonesia’, diharapkan peserta didik mampu :

·      Memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka NKRI,

·      Menunjukkan semangat persatuan dan kesatuan dalam memahami daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam kerangka NKRI, dan

·      Menyajikan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian utuh dari NKRI.

B.  LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

1.   KegiatanPendahuluan

·         Kelas dibuka dengan ucapansalam, berdo’a, menanyakan kabar, dan mengecek kehadiran siswa.(RELIGIUS)

·         Guru menjelaskan tentang tujuan, manfaat, dan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan.

·         Pembiasaan membaca(LITERASI)

·         Siswa diajak menyanyikan lagu daerah setempat (Nasionalis)

2.   KegiatanInti

·         Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan  4 siswa.

·         Guru   memberi   tugas  dan  materi   yang  berbeda  untuk   tiap  anggota   dalam kelompok.

·         Anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/subbab yang sama bertemu kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan  subbab mereka.

·         Setelah selesai diskusi sebagian tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal dan bergantian  mengajar/melaoporkan hasil diskusinya kepada teman satu tim mereka tentang subbab yang dibahas.

·         Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya.

·         Guru   membimbing   peserta  didik  menghubungkan  berbagai  informasi   yang diperoleh, seperti berikut ini.

-       Hubungan  suku dengan wilayah secara geografis. b.    Hubungan  suku dengan budaya.

-       Persamaan dan perbedaan  suku dan budaya.

·         Guru membimbing  peserta didik menyimpulkan keberagaman suku dan budaya dalam masyarakat.

3.   KegiatanPenutup

·         Siswa bersama guru menyimpulkanpembelajrandanrefleksi

·         Siswa menyimak cerita motivasi tentang pentingnya sikap disiplin.

·         Siswa melakukan operasi semut untuk menjaga kebersihan  kelas.

·         Kelas ditutup dengan doa bersama dipimpin salah seorang siswa

 

C. PENILAIAN (ASESMEN)

1) Sikap:Obervasi, 2)Pengetahuan:Tertulis, 3) Keterampilan: Produk

 

Mengetahui

Kepala Mts Nahdlatul Wathon  

 

 

Ahmad Syaekhu,S.Pd.I

 

Tuban, 15 januari 2022

Guru PKn

 

 

Sri Wahyuni, S.Pd.

 

 

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan         :  Mts Nahdlatul Wathon

Kelas / Semester            : VII / 2

Mata Pelajaran             :  PPKn

Materi Pokok                :  Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

Sub Materi                    :  Keberagaman dalam Masyarakat Indonesia

Pertemuan ke-               :  2

Alokasi Waktu              :  1 x Pertemuan (120 Menit)

Materi Pembelajaran

KeberagamandalamMasyarakat Indonesia

a.       FaktorPenyebabKeberagamanMasyarakat Indonesia

b.      KeberagamanSukuBangsadanBudaya

c.       Keberagaman Agama danKepercayaan

d.      KeberagamanRas

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

·       Sumber dan Media

-      Buku Guru danBukuSiswaEdisiRevisi SMP/MTs Kelas VII, “PendidikanPancasiladanKewarganegaraan “, KementerianPendidikandanKebudayaan, Jakarta: 2016

-      Buku referensi lain yang menunjang

-      Internet

A.  tUJUAN Pembelajaran

·      Memahami arti pentingnya daerah dalam kerangka NKRI,

·      Menunjukkan semangat persatuan dan kesatuan dalam memahami daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam kerangka NKRI, dan

·      Menyajikan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian utuh dari NKRI.

B.  LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

1.   KegiatanPendahuluan

·         Kelas dibuka dengan ucapansalam, berdo’a, menanyakan kabar, dan mengecek kehadiran siswa.

·         Guru menjelaskan tentang tujuan, manfaat, dan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan.

·         Pembiasaan membaca(LITERASI)

·         Siswa diajak menyanyikan lagu daerah setempat (Nasionalis)

2.   KegiatanInti

·         Guru membagi kelas menjadi delapan kelompok atau sesuai kebutuhan.

·         Guru  membimbing  peserta didik mengamati keanekaragama suku, agama,  ras, dan  antargolongan dalam  masyarakat di sekitar  peserta  didik,  dan  mengkaji berbagai keanekaragaman bangsa Indonesia  yang ada di buku paket maupun  di sumber belajar lainnya.

·         Guru    membimbing    peserta   didik   mengidentifikasi    pertanyaan   berkaitan keberagaman ras, agama, dan antargolongan dalam masyarakat Indonesia.

·         Guru  membimbing   menyusun   pertanyaan  agar  sesuai  indikator  pencapaian kompetensi,  seperti : siapa, apa, kapan, bagaimana, mengapa keberagaman ras, agama,  antargolongan dalam masyarakat Indonesia  dan faktor-faktor penyebab keberagaman tersebut.

·         Guru membimbing peserta didik mencari informasi dari berbagai sumber belajar dan mendiskusikan  pertanyaan yang disusun dan melakukan  Aktivitas 4.2.

·         Guru   membimbing   peserta  didik  menghubungkan  berbagai  informasi   yang diperoleh  dan mengkajinya  dengan  nilai-nilai luhur Pancasila  yang seharusnya tetap ada dalam masyarakat Indonesia.

·         Guru   membimbing   peserta  didik  menyimpulkan  nilai-nilai  luhur  Pancasila dalam keberagaman suku dan budaya dalam masyarakat.

·         Guru membimbing peserta didik menyusun hasil telaah nilai-nilai luhur Pancasila dalam keberagaman ras, agama, antargolongan dalam masyarakat. Laporan hasil telaah dapat bentuk bahan tayang, display, atau bentuk lain.

·         Guru  membimbing  peserta  didik  menyajikan  hasil  telaah  keberagaman hasil telaah  nilai-nilai  luhur  Pancasila  dalam  keberagaman suku,  agama,  ras  dan antargolongan dalam masyarakat.

3.   KegiatanPenutup

·         Siswa bersama guru menyimpulkanpembelajrandanrefleksi

·         Siswa menyimak cerita motivasi tentang pentingnya sikap disiplin.

·         Siswa melakukan operasi semut untuk menjaga kebersihan  kelas.

·         Kelas ditutup dengan doa bersama dipimpin salah seorang siswa

C. PENILAIAN (ASESMEN)

1) Sikap:Obervasi, 2)Pengetahuan:Tertulis, 3) Keterampilan: Produk

Mengetahui

Kepala Mts Nahdlatul Wathon     


Ahmad Syaekhu,S.Pd.I

 

Tuban, 15 januari 2022

Guru PKn

 

Sri Wahyuni, S.Pd.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan         :  Mts Nahdlatul wathon 

Kelas / Semester            : VII / 2

Mata Pelajaran             :  PPKn

Materi Pokok                :  Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

Sub Materi                    :  Arti Penting Memahami Keberagaman dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

Pertemuan ke-               :  3

Alokasi Waktu              :  1 x Pertemuan (120 Menit)

Materi Pembelajaran

a.       ArtiPentingMemahamiKeberagamandalamBingkaiBhineka Tunggal Ika

 

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

·       Sumber dan Media

-      Buku Guru danBukuSiswaEdisiRevisi SMP/MTs Kelas VII, “PendidikanPancasiladanKewarganegaraan “, KementerianPendidikandanKebudayaan, Jakarta: 2016

-      Buku referensi lain yang menunjang

-      Internet

A.  tUJUAN Pembelajaran

·      Memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),

·      Menunjukkan semangat persatuan dan kesatuan dalam memahami daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam kerangka NKRI, dan

·      Menyajikan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian utuh dari NKRI.

B.  LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

1.   KegiatanPendahuluan

·         Kelas dibuka dengan ucapansalam, berdo’a, menanyakan kabar, dan mengecek kehadiran siswa.(RELIGIUS)

·         Guru menjelaskan tentang tujuan, manfaat, dan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan.

·         Pembiasaan membaca(LITERASI)

·         Siswadiajakmenyanyikanlagudaerahsetempat(Nasionalis)

2.   KegiatanInti

·         Guru  membentuk  kelas menjadi  beberapa  kelompok,  dengan  jumlah  anggota empat sampai dengan lima peserta didik.

·         Kelompok  menentukan satu  topik  masalah  untuk  bahan  kajian  arti  penting keberagaman masyarakat Indonesia,  seperti keberagaman suku di sekolah.

·         Peserta didik membaca berbagai berita dan perisiwa berkaitan dengan topik yang dipilih sesuai tugas Aktivitas  4.3, dan  peristiwa  yang terjadi  di sekitar peserta didik.

·       Guru membimbing peserta didik mengidentifikasi pertanyaan berkaiatan dengan berita atau peristiwa sesuai topik yang dipilih.

·         Guru  membimbing  peserta  didik menyusun  pertanyaan agar  sesuai  indikator pencapaian kompetensi.

·         Guru  membimbing  kelompok  dengan  memfasilitasi  berbagai  sumber  belajar, seperti buku teks, buku penunjang,  dan internet.

·         Guru   juga  dapat   menjadi   nara   sumber   atas   pertanyaan  peserta   didik  di kelompok.

·         Guru  membimbing  peserta didik untuk mendiskusikan hubungan  atas berbagai informasi yang sudah diperoleh sebelumnya,  seperti berikut ini.

·         Guru  membimbing  peserta  didik  secara  kelompok  untuk  menyimpulkan arti penting keberagaman dalam masyarakat.

·         Guru  membimbing  setiap  kelompok  untuk  menyajikan  hasil  telaah  di kelas.

3.   KegiatanPenutup

·      Siswa bersama guru menyimpulkanpembelajrandanrefleksi

·      Siswa menyimak cerita motivasi tentang pentingnya sikap disiplin.

·      Siswa melakukan operasi semut untuk menjaga kebersihan  kelas.

·      Kelas ditutup dengan doa bersama dipimpin salah seorang siswa


C. PENILAIAN (ASESMEN)

1) Sikap:Obervasi, 2)Pengetahuan:Tertulis, 3) Keterampilan: Produk

 

Mengetahui

Kepala Mts Nahdlatul Wathon  

 

Ahmad Syaekhu,S.Pd.I

 

Tuban, 15 januari 2022

Guru PKn

 

Sri Wahyuni, S.Pd.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Satuan Pendidikan         :  Mts Nahdlatul wathon 

Kelas / Semester            : VII / 2

Mata Pelajaran             :  PPKn

Materi Pokok                :  Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

Sub Materi                    :  Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan

Pertemuan ke-               :  4

Alokasi Waktu              :  1 x Pertemuan (120 Menit)

Materi Pembelajaran

a.       PerilakuToleranterhadapKeberagamanSuku, Agama, Ras, danAntargolongan

 

 

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

·       Sumber dan Media

-      Buku Guru danBukuSiswaEdisiRevisi SMP/MTs Kelas VII, “PendidikanPancasiladanKewarganegaraan “, KementerianPendidikandanKebudayaan, Jakarta: 2016

-      Buku referensi lain yang menunjang

-      Internet

 

A.  tUJUAN Pembelajaran

·      Memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),

·      Menunjukkan semangat persatuan dan kesatuan dalam memahami daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam kerangka NKRI, dan

·      Menyajikan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian utuh dari NKRI.

 

F.  LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

1.   KegiatanPendahuluan

·         Kelas dibuka dengan ucapansalam, berdo’a, menanyakan kabar, dan mengecek kehadiran siswa.(RELIGIUS)

·         Guru menjelaskan tentang tujuan, manfaat, dan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan.

·         Pembiasaan membaca(LITERASI)

·         Siswadiajakmenyanyikanlagudaerahsetempat(Nasionalis)

2.   KegiatanInti

·         Guru  membentuk  kelas menjadi delapan  kelompok  dengan topik yang berbeda seperti toleransi terhadap  keberagaman di berbagai lingkungan.

·         Guru meminta peserta didik mengamati perilaku toleransi di berbagai lingkungan kehidupan.

·         Peserta didik berdiskusi dalam  kelompok  secara dialogis untuk  mengkaji suatu isu toleransi.

·         Peserta didik menyatakan pendapatnya tentang pentingnya  toleransi,

·         Peserta didik menjelaskan  mengapa ia memilih untuk memiliki sikap toleran.

·         Guru  membimbing  peserta didik untuk mendiskusikan hubungan  atas berbagai informasi yang diperoleh, seperti berikut ini.

-       Faktor penyebab perilaku toleransi

-       Akibat apabila perilaku tidak toleransi

·      Guru membimbing peserta didik secara kelompok untuk menyimpulkan perilaku toleransi terhadap  keberagaman masyarakat di berbagai lingkungan.

3.   KegiatanPenutup

·         Guru  membimbing  peserta  didik menyimpulkan materi  pembelajaran melalui tanya jawab secara klasikal.

·         Guru melakukan refleksi dengan peserta didik atas manfaat proses pembelajaran yang telah dilakukan,  sikap yang diperoleh,  manfaat materi pembelajaran, sikap dan tindakan  yang akan dilakukan.

·         Guru memberikan  umpan balik atas proses pembelajaran dan hasil laporan

·         Guru   menjelaskan   rencana   kegiatan   pertemuan  berikutnya   bahwa   setiap kelompok untuk melakukan  proyek kewarganegaraan.


C. PENILAIAN (ASESMEN)

1) Sikap:Obervasi, 2)Pengetahuan:Tertulis, 3) Keterampilan: Produk

 

Mengetahui

Kepala Mts Nahdlatul Wathon      

 

 

Ahmad Syaekhu,S.Pd.I

 

Tuban, 15 januari 2022

Guru PKn

 

 

Sri Wahyuni, S.Pd.

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

 

Satuan Pendidikan         :  Mts Nahdlatul wathon 

Kelas / Semester            : VII / 2

Mata Pelajaran             :  PPKn

Materi Pokok                :  Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhineka Tunggal Ika

Sub Materi                    :  Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan

Pertemuan ke-               :  5

Alokasi Waktu              :  1 x Pertemuan (120 Menit)

Materi Pembelajaran

a.       PerilakuToleranterhadapKeberagamanSuku, Agama, Ras, danAntargolongan

 

MEDIA DAN SUMBER BELAJAR

·       Sumber dan Media

-      Buku Guru danBukuSiswaEdisiRevisi SMP/MTs Kelas VII, “PendidikanPancasiladanKewarganegaraan “, KementerianPendidikandanKebudayaan, Jakarta: 2016

-      Buku referensi lain yang menunjang

-      Internet

A.  tUJUAN Pembelajaran

Setelah mempelajari materi tentang ’ Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan’, diharapkan peserta didik mampu :

·      Memahami karakteristik daerah tempat tinggalnya dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),

·      Menunjukkan semangat persatuan dan kesatuan dalam memahami daerah tempat tinggalnya sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dalam kerangka NKRI, dan

·      Menyajikan karakteristik daerah tempat tinggalnya sebagai bagian utuh dari NKRI.

B.  LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN

1.   KegiatanPendahuluan

·         Kelas dibuka dengan ucapansalam, berdo’a, menanyakan kabar, dan mengecek kehadiran siswa.(RELIGIUS)

·         Guru menjelaskan tentang tujuan, manfaat, dan aktivitas pembelajaran yang akan dilakukan.

·         Pembiasaan membaca(LITERASI)

·         Siswadiajakmenyanyikanlagudaerahsetempat(Nasionalis)

2.   KegiatanInti

·         Guru  membentuk  kelas  menjadi  dengan  anggota  4 sampai  dengan  5 orang, dengan  anggota  yang berbeda-beda,  seperti jenis kelamin,  agama,  asal daerah, dan sebagainya.

·         Guru  meminta  peserta didik mengamati gambar.  Juga berbagai budaya  daerah yang ada di Indonesia  dan sekitar lingkungan  peserta didik, seperti tarian, lagu, musik, pakaian,  dan sebagainya.

·         Kelompok menentukan satu bentuk budaya yang akan ditampilkan dalam pentas budaya Indonesia  di kelas.

·         Guru membimbing  peserta didik mengidentifikasi  pertanyaan berkaitan dengan tugas praktik kewarganegaraan.

·         Guru  membimbing  peserta  didik menyusun  pertanyaan agar  sesuai  indikator pencapaian kompetensi.

·         Guru membimbing   kelompok   mengumpulkan  informasi   untuk   menjawab pertanyaan  yang  telah  disusun,   dengan  mengamati  bentuk  interaksi  secara langsung  dan  atau  wawancara dengan  nara  sumber. 

·         Guru  juga  dapat   menjadi   nara   sumber   atas   pertanyaan  peserta   didik  di kelompok.

·         Guru  membimbing   peserta  didik  menghubungkan  berbagai  informasi   yang diperoleh dalam praktik

·         Guru membimbing  peserta didik menyimpulkan praktik kewarganegaraan

·         Guru membimbing  setiap  kelompok  untuk  menyajikan  budaya  daerah  dalam pentas budaya Indonesia.

·         Guru membimbing  kelompok  lain untuk  memberikan  penilaian  dan  apresiasi atas penampilan kelompok lain.

3.   KegiatanPenutup

·         Siswa bersama guru menyimpulkanpembelajrandanrefleksi

·         Siswamenyimakceritamotivasitentangpentingnyasikapdisiplin.

·         Siswamelakukanoperasisemutuntukmenjagakebersihankelas.

·         Kelasditutupdengandoabersamadipimpinsalahseorangsiswa

C. PENILAIAN (ASESMEN)

1) Sikap:Obervasi, 2)Pengetahuan:Tertulis, 3) Keterampilan: Produk

 

Mengetahui

Kepala Mts Nahdlatul Wathon  


Ahmad Syaekhu,S.Pd.I

 

Tuban, 15 januari 2022

Guru PKn

 

Sri Wahyuni, S.Pd.

 

 

 

PROGRAM TAHUNAN MTs Kelas 7

  PROGRAM TAHUNAN   Satuan Pendidikan           :    MTs Nahdlatul Wathon Mata Pelajaran                :     Pendidikan Pancasila d...